
LAMBAR- Sebagian besar orang yang mendengar kata batik akan
mengacu pada jenis kain yang lukis atau bahan pakaian yang digunakan oleh
masyarakat pada umumnya.

Pengertian batik bisa dilihat dalam dua hal. mari kita telaah
dari segi pewarnaannya,teknik perwarnaan pada umumnya.
Yaitu pewarnaan pada
seluruh kain dan bisa juga dari sebagian kain pengertian kedua, batik adalah
teknik pembuatan kain yang digambar atau dilukis menggunakan teknik tertentu
untuk membentuk pola atau motif yang khas.

Semua proses tersebut memerlukan tingkat ketelitian yang
sangat tinggi dan dilakukan menggunakan tangan.celugam kain khas daerah
lampung barat,dilihat secara keseluruhan teknik pembuatan.
Teknologi serta
berbagai macam pola atau motif dan budaya yang terkandung pada batik itu
sendiri sudah ditetapkan sebagai Warisan leluhur.

kita harus bangga karena kita mempunyai dan menggunakan
batik yang erat hubungannya menggambarkan betapa kayanya budaya kita.Kalau
jaman dulu.
Kita melihat hanya orang-orang tua yang memakai batik untuk acara
kondangan.,sekarang ini kita sudah melihat banyak pemuda-pemudi yang
menggunakan celugan kain khas lampung barat, tidak hanya ke acara formal namun
juga acara santai.
Memakai batik saat ini sudahlah menjadi tren masa kini,
tidak hanya anak sekolah saja yang wajib menggunakan seragam batik ke sekolah
tetapi juga PNS dan karyawan swasta kantoran yang biasanya diwajibkan
menggunakan batik pada hari tertentu (Biasanya Hari Jumat).
Alat dan pola gambaran celugan khas lambar benar-benar
mencerminkan ciri khas dari budaya bangsa Indonesia.Jika pola tersebut
berbentuk hiasan, maka hiasan tersebut merupakan hiasan yang hanya terdapat di
Indonesia dan tidak terdapat di negara lain.
Pemkab Lampung Barat didukung oleh para desainer terus
berupaya untuk mengembangkan kain khas daerah setempat. Salah satunya.
Kain
bermotif celugam yang merupakan kain khas Bumi Sekala Bekhak yang
berbentuk potongan potongan kain segitiga berwarna merah, orange, hitam dan
putih menyatu menjadi motif –motif unik dan antik.
Perkembangannya Celugam ini kini mulai dikembangkan menjadi
berbagai produk kebutuhan sehari hari, seperti Sarung Bantal Kursi, Taplak
Meja, Tatakan Gelas, Bungkus Aqua, Kotak Tisu, Tas, busana dan banyak lagi
produknya.
Selain itu untuk membuat agar Celugam lebih menarik dan dapat
diminati oleh semua kalangan celugam saat ini mulai dikembangkan dalam bentuk
SulamTapis dan Bordir.
Dedi Edwin salah seorang desainer dan juga staff Dewan
Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Lambar mengungkapkan, celugam ini
dipercaya sudah turun temurun dipakai oleh masyarakat Lambar, hal ini diperkuat
oleh adanya kerajaan Sekala Beghak.
Karena biasanya tempat duduk atau
singgasana kerajaan skala beghak merupakan tumpukan kasur (susunan kasur)
dengan bagian depan kasur dilapisi Celugam atau biasanya disebut Pudak Palsu.
”Biasanya pada kasur yang digunakan untuk alas duduk oleh
Suntan (raja) atau Pengantin memiliki tingkatan Kasur sesuai dengan Gelar si
pemakai, dan motif Celugam yang digunakan disetiap tingkatan kasur berbeda
beda,” ungkapnya.
Dijelaskan Dedi, motif-motif dari celugam ini yakni, Puttut
Manggus, Apipon, Cumcok, Kekeris dan Lalamban. Kelima motif tersebut memiliki
keunikan keunikan tersendiri dan sistem pengerjaan yang berbeda-beda dan
Pengerjaannya identik lebih mendekati ke teknik Patcwork (penyambungan
penyambungan kain segitiga.
”Untuk motif Puttut Manggus atau dalam bahasa indonesianya
Bagian Bawah Buah Manggus yang berbentuk Bunga (dibaca: Pantat Manggis) ini
memiliki bentuk segitiga seperti bintang yang terdiri dari hitam putih, merah
orange.
Selanjutnya motif Apipon yang menyerupai gerigi yang biasanya dijadikan
sebagai pemanis dalam susunan Celugam ini sendiri, yang hal ini tidak lepas
dari sebutan Bilai,” kata dia.
Lalu motif lainnya yakni Cumcok yang sama halnya dengan
Apipon Cumcok ini juga digunakan Sebagai Bilai (Pemisah/Pembatas dari satu
motif ke motif Lain) memiiki bentuk seperti segiempat yang disambung dengan
warna berbeda-beda.
”Selanjutnya motif Kekeris yang memasukkan semua warna
dari celugam ini sendiri yaitu Merah, Orange, Hitam, Putih. Dan terakhir motif
Lalamban, yang merupakan motif yang banyak digunakan,” paparnya.
Dedi juga mengungkapkan, untuk pemasaran celugam pada
saat ini mulai merambah kabupaten lain dan provinsi Lampung. Mengingat potensi
akan celugam ini sangat bagus dilihat dari tingginya permintaan di kabupaten
Lambar sendiri sebagai pemilik Celugam.
”Selain, di wilayah Lambar permintaan
celugam juga diminati kabupaten tetangga Oku Selatan Provinsi Sumatera Selatan,
di Kabupaten ini permintaan Celugam Hampir sama dengan permintaan di Lampung
Barat sendiri,” imbuhnya.
Dedi melanjutkan, saat ini, Celugam juga mulai diminati oleh
beberapa kabupaten/kota diprovinsi Lampung untk dikembangkan dalam bentus Tas
Pesta dan busana Pesta,adapun beberapa Tehnik Pemasaran yang sudah diterapkan
untuk Kerajinan.
Antik Celugam ini diantaranya membuat inovasi inovasi produk
sesuai kebutuhan masyarakat yan tidak dibatasi oleh wilayah dan kegunaan, agar
celugam ini dapat diterima oleh seluruh masyarakat Lampung khususnya Indonesia
pada umumnya perlu diadakan inovasi.”Inovasi tersebut seperti celugam dibuat
dalam bentuk Batik, Tapis atau Bordir.
Kemudian, diolah menjadi dalam bentuk
busana, accecories atau produk Fashion Lainnya. Karena jika dipertahankan dalam
bentuk aslinya dan tidak dibuat produk produk umum maka pemasaran akan stagnan
di wilayah Lampung Barat saja,” ujarnya.
Dari produk inovasi tersebut, terus dia, pasar target
pertama yang harus di ambil adalah Pemerintah Kabupaten Lampung Barat, karena
ini akan mempercepat penjualan dan promosi baik di dalam maupun diluar
kabupaten.
”Kemudian untuk mempercepat pengenalan Celugam pada
Masyarakat umum setiap event atau pun icon kedaerahan di masukkan unsur celugam
sehingga celugam ini menjadi trend dikalangan masyarakat. Dan juga Media
promosi online terbuka luas bagi semua kalangan sehingga promosi yang paling
efektif di era digital ini adalah promosi secara online baik melalui Facebook,
Instgram, dan sosial media lainnya,” pungkas Dedi Edwin .(Editorlambar.Com)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar