Dunia Pendidikan
Merupakan Dunia Pembelajaran.
LAMBAR-Sekiranya kata tersebut tepat adanya jika kita secara
kolektif mengakui akan pentingnya pendidikan dalam kehidupan ini. Namun, dunia
pendidikan akan tidak mengindahkan jika di dalamnya ternodahi dengan adanya
kekerasan. Apalagi kekerasan dilakukan oleh sosok seorang guru, seperti yang
dilakukan oleh oknum seorang guru di SDN I waimengaku kecamatan balik bukit
kabupaten lampung barat (Lambar)dilaporkan telah menganiaya tiga murid kelas V
disekolah itu,peristiwa itu terjadi saat jam kegiatan belajar mengajar
berlansung jum,at (12/1).
Wajar adanya jika berbagai pihak menyesalkannya,apalagi guru
adalah sosok pendidik yang seharusnya memberikan pendidikan positif, bukan
malah melakukan kekerasan terhadap murid.Stop pendidikan dengan kekerasan apapun
alasannya kemarahan guru yang tidak memberikan suritauladan yang baik salah
adanya. Baik itu, guru marah kepada siswanya di kelas atau di sekolah. Mulai
karena siswa tak mengerjakan pekerjaan rumah (PR), tidak menghormati guru yang
sedang mengajar dengan ngomong sendiri atau main HP, siswa ramai dan berkelahi
di kelas, siswa melakukan pelanggaran moral seperti narkoba, mencuri,
mencontek, hingga mengejek guru. Sebaiknya guru tidak mengunakan kekerasan
apapun bentuknya, untuk menjawab semua kesalahan siswa atau peserta didik yang
ada.Kekerasan tidak ada dalam ranah pendidikan kita, karena kekerasan dalam dunia
pendidikan kita jika kita biarkan justru akan menghasilkan manusia-manusia yang
suka melakukan kekerasan. Ini sekiranya, perlu menjadi kesadaran kita bersama
untuk tidak membiarkan kekerasan dalam lingkup sekolah atau lembaga pendidikan.
Kepala Bidang Ketenagaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Lambar) Syafaruddin,
mendampingi Plt Kadisdikbud, Bukli Basri, Sabtu (13/1), membenarkan kejadian
tersebut. Dia mengaku baru nenerima informasi dimaksud dari rekannya. Pihaknya
mengaku baru akan mengambil sikap Senin (15/1),Hari ini.
Guru adalah tenaga pendidikan yang harusnya memberikan pendidikan. Pendidikan
yang diwarnai dengan kekerasan tidak akan menghasilkan Sumber Daya Manusia
(SDM) yang baik. Pendidikan dengan kekerasan ini akan berdampak negatif terhadap
perkembangan anak. Apalagi usia SD dan SMA adalah usia yang sangat rentan
psikologis. Dikuatirkan pendidikan yang diwarnai dengan kekerasan akan
menghasilkan orang yang suka dengan kekerasan. Akan lahir kekerasan-kekerasan
lain sebagai dampak terhadap kekerasan yang dialami oleh siswa atau peserta
didik tersebut. Apapun alasannya, tindakan kekerasan terhadap murid harus
dihentikan dan mesti dikutuk. Di zaman sekarang pendidikan dengan kekerasan
sudah tidak perlu dilakukan lagi. Sudah tidak zamannya lagi mendidik dengan
kekerasan. Anak didik yang nakal itu adalah mereka yang ingin diperhatikan.
Guru seharusnya memberi perhatian. Jangan malah melakukan kekerasan terhadap
murid tersebut.
Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di
masyarakat.Guru dapat dihormati oleh masyarakat karena kewibawaannya, sehingga
masayarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat percaya bahwa dengan adanya
guru, maka dapat mendidik dan membentuk kepribadian anak didik mereka dengan
baik agar mempunyai intelektualitas yang tinggi serta jiwa kepemimpinan yang
bertanggungjawab. Jadi dalam pengertian yang sederhana, guru dapat diartikan
sebagai orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik dan
mengajarkan etika dengan baik.Lebih lengkapnya lagi.
Artinya ,sosok guru juga harus bisa jadi seorang pembelajar tidak boleh berhenti belajar dan terus mengembangkan diri,Kemauan kuat untuk terus belajar dan berkarya agar menghasilkan generasi pembelajar sepanjang hayat dengan demikian, dapat memberi kontribusi yang terbaik bagi masyarakat di sekitar,Profesionalisme merupakan sikap profesional yang berarti melakukan sesuatu sebagai pekerjaan pokok dan bukan sebagai pengisi waktu luang atau sebagai hobi belaka seorang profesional mempunyai pengetahuan yang dimiliki dalam melayani pekerjaan di bidangnya bertanggung jawab atas keputusannya baik intelektual maupun sikap, dan menjunjung tinggi etika profesi,seorang guru masa depan diharapkan mempunyai kepribadian yang khas Disatu pihak guru harus ramah, sabar, menunjukkan pengertian, memberikan kepercayaan dan menciptakan suasana aman. Akan tetapi di lain pihak, guru harus memberikan tugas, mendorong siswa untuk mencapai tujuan, menegur, menilai, dan mengadakan koreksi. Oleh karna itu, seorang guru harus mampu berperan ganda Peran ganda ini dapat di wujudkan secara berlainan sesuai dengan situasi dan kondisi yang di hadapi.
Saat ini sudah saatnya relasi guru dan siswa menjadi relasi yang baik yang dialogis.Artinya, guru yang memang lebih tua, diharapkan lebih matang dan lebih tidak emosional dibandingkan dengan siswa yang memang masih remaja dengan segala kekurangannya, apalagi pendidik adalah teladan atau panutan. Kalau kekerasan itu dilakukan di depan kelas, ini menjadi contoh yang tidak baik bagi siswa lain karena melihat temannya dihajar oleh guru yang seharusnya lebih sabar dan lebih dewasa dengan tindakan itu, sebenarnya guru sendiri menjatuhkan dirinya di depan siswa karena tidak dapat menjadi teladan sebagai orang tua yang dengan sabar membimbing siswa.
Artinya ,sosok guru juga harus bisa jadi seorang pembelajar tidak boleh berhenti belajar dan terus mengembangkan diri,Kemauan kuat untuk terus belajar dan berkarya agar menghasilkan generasi pembelajar sepanjang hayat dengan demikian, dapat memberi kontribusi yang terbaik bagi masyarakat di sekitar,Profesionalisme merupakan sikap profesional yang berarti melakukan sesuatu sebagai pekerjaan pokok dan bukan sebagai pengisi waktu luang atau sebagai hobi belaka seorang profesional mempunyai pengetahuan yang dimiliki dalam melayani pekerjaan di bidangnya bertanggung jawab atas keputusannya baik intelektual maupun sikap, dan menjunjung tinggi etika profesi,seorang guru masa depan diharapkan mempunyai kepribadian yang khas Disatu pihak guru harus ramah, sabar, menunjukkan pengertian, memberikan kepercayaan dan menciptakan suasana aman. Akan tetapi di lain pihak, guru harus memberikan tugas, mendorong siswa untuk mencapai tujuan, menegur, menilai, dan mengadakan koreksi. Oleh karna itu, seorang guru harus mampu berperan ganda Peran ganda ini dapat di wujudkan secara berlainan sesuai dengan situasi dan kondisi yang di hadapi.
Saat ini sudah saatnya relasi guru dan siswa menjadi relasi yang baik yang dialogis.Artinya, guru yang memang lebih tua, diharapkan lebih matang dan lebih tidak emosional dibandingkan dengan siswa yang memang masih remaja dengan segala kekurangannya, apalagi pendidik adalah teladan atau panutan. Kalau kekerasan itu dilakukan di depan kelas, ini menjadi contoh yang tidak baik bagi siswa lain karena melihat temannya dihajar oleh guru yang seharusnya lebih sabar dan lebih dewasa dengan tindakan itu, sebenarnya guru sendiri menjatuhkan dirinya di depan siswa karena tidak dapat menjadi teladan sebagai orang tua yang dengan sabar membimbing siswa.
Mengingat guru adalah sosok yang terhormat di masyarakat wajar
adanya jika predikat itu benar-benar berat tanggungjawabnya ditengah-tengah
masyarakat kita Begitu besar amanah yang diemban oleh sosok seorang guru Begitu
besar harapan masyarakat kita akan sosoknya. Oleh sebab itu, sudah saatnya,
guru di masa depan bukan lagi hanya bertindak sebagai penyampai pengetahuan
semata, namun lebih dari itu Jadi, sosok guru harus mampu menciptakan siswa
agar jadi pelajar yang tangguh, berintegritas tinggi, santun, dan mampu
beradaptasi dengan segala perubahan. (Editorlambar)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar