
LAMBAR
– Musim panas dapat menyebabkan kekeringan juga kebakaran hutan,
sementara musim hujan biasanya mengakibatkan banjir, untuk itu, masyarakat
diharapkan memiliki kesiapan menghadapi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memiliiki sebuah buku panduan yang
dapat digunakan masyarakat untuk menghadapi bencana alam.
Buku ini memang tidak dapat menjamin seseorang dapat selamat
dari sebuah bencana, tetapi setidaknya informasi di buku ini bisa membuat
seseorang memahami apa yang harus dilakukan ketika bencana datang. Panduan
menghadapi bencana itu berjudul "Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh
Menghadapi Bencana". Di dalamnya terdapat berbagai panduan bagi masyarakat
saat menghadapi berbagai bencana alam seperti banjir, gempa, gunung berapi,
kebakaran hutan, kekeringan, dan sebagainya.

Selain itu,di buku ini juga dilengkapi dengan berbagai nomor telepon yang dapat dihubungi dalam keadaan darurat. Misalnya kepolisian, pemadam kebakaran, Basarnas, dan sebagainya, mulai dari tingkat daerah hingga nasional.
Negara Indonesia merupakan negara yang rawan bencana yang bisa terjadi kapan pun dan dimanapun, serta bisa menimpa siapa saja. Sehingga, setiap masyarakat wajib menjadikan dirinya sebagai relawan dan menjadi masyarakat tangguh bencana termasuk di Kabupaten Lampung Barat
Hal
tersebut di sampaikan Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus saat membuka secara
resmi Sosialisasi Rawan Bencana Tahun 2018 di
Balai Pekon Suka Maju Pekon Giham,
Kecamatan Sekincau Rabu,(31/10/2018).
Oleh
karena itu, masyarakat harus bisa menjadi relawan penyelamatan diri sendiri,
keluarga, dan lingkungan dengan mengikuti sosialisasi tersebut. Lambar sudah
mendeklarasikan dirinya menjadi salah satu kabupaten tangguh bencana sebagai
wujud implementasi daripada sebuah program yang sudah di resmikan yaitu harus
menyampaikan apa yang menjadi tujuan dan sasaran serta manfaat daripada suatu
program tersebut.
Lebih
lanjut pendukung program ini adalah anak- anak yang terlibat organisasi
pramuka, organisasi PMR hal ini merupakan salah satu organisasi yang tidak
terpisahkan daripada kabupaten Tangguh bencana, Lambar sudah mendapatkan
penghargaan dari pemerintah pusat diberikan sebuah apresiasi diberikan sebuah
penghargaan."
Apresiasi
dan penghargaan tersebut harus kita siasasti dan kita jaga dalam bentuk
kegiatan diantaranya adalah sosialisasi ,simulasi yang tidak kalah pentingnya
adalah struktur daripada BPBD baik kabupaten, Kecamatan, Pekon maupun lembaga
lainnya termasuk di lembaga pendidikan termasuk juga kesehatan dan
lainnya",paparnya.
Terus
kita ketahui bersama betapa pentingnya sosialiasi ini merupakan salah satu
kewaspadaan untuk mengurangi resiko bencana karena menurut analisa fakta yang
ada banyaknya korban jiwa karena kurangnya pemahaman dari masyarakat yang
daerahnya mengalami bencana.
Bukan
berati Lambar tidak ada bencana justru
kita berharap dapat menghindari agar supaya Lambar tidak terjadi
hal-hal yang tidak kita inginkan paling
kalau terjadi bencana kita sudah siapmenghadapinya secara lahir dan batin
artinya jika kita sudah siap insyaallah korban bencana tidak terlalu banyak
lagi,ujarnya.
"
Lambar merupakan daerah rawan bencana salah satunya yang sering dirasakan
adalah gempa ,longsor ,banjir kebakaran, dan lain-lain nya.", Ucapnya.
Masih
kata Bupati,bupati kepada satgas yang telah di bentuk seperti Peratin, lurah,
kepala OPD ,camat saat pertemuan di tingkat kecamatan ,Pekon, kelurahan
,pemangku pengajian tolong disampaikan dengan masyarakat bahwa pemerintah
memahami tentang imitasi bencana karena apapun bentuknya ini bukan hanya
tanggung jawab BPBD tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat .
Kepada anak- anak sampaikan kepada bapak ibu teman saudara 2019 BPBD akan
Bekerja sama dengan literasi daerah yang hadir memberikan pemahaman pergerakan
pengetahuan dan wawasan apa itu imitasi bencana
contohnya beberapa waktu yang
lalu negara Jepang belajar ke Lampung Barat.
Mengapa Liwa gempa tahun 1994
dengan kekuatan 6'4 Skala tetapi tidak banyak korban jiwa tidak banyak rumah
yang roboh setelah para mahasiswa meneliti dan melihat langsung ternyata memang
bangunan kita ini atau lamban Lampung memang strukturnya tahan gempa t hanya
saja berubah posisi .artinya kalau kondisi bangunan seperti itu masyarakat yang
menempati kediaman tersebut tidak meski terlalu panik karena bangunan tersebut
terbuat dari kayu itu menurut analisa penelitian Jepang .
Dengan
demikian disampaikan kepala BPBD Maidar menyampaikan tujuan dari kegiatan
tersebut adalah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya bencana
dan memberikan petunjuk kepada masyarakat dalam mengantisipasi mewaspadai dan
bersiap siaga atas bencana serta mensosialisasikan berbagai kebijakan
pemerintah sebagai upaya penanggulangan bencana.
Kemudian
sasaran dari kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat
tentang penanggulangan bencana . Kegiatan ini dilaksanakan selama 4 hari Rabu
31 Oktober 2018 di kecamatan sekincau, Kamis 1 November 2018 di kecamatan pagar
dewa, Senin 5 November 2018 di kecamatan batu Brak dan Selasa 6 November 2018
di kecamatan Batu ketulis.
Dalam
kegiatan tersebut di hadiri oleh Asisten Bidang pemerintahan Drs. Adi Utama,
pemateri , camat , kepala sekolah, organisasi pramuka, organisasi PMR Satgas
bencana dari Pekon dan peserta terdiri dari masyarakat sebanyak 50 orang di
masing-masing kecamatan dan SMK,SMA,SMP serta MTs. (Editorlambar.Com)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar